Minggu, 29 Mei 2016

MENELITI DIRI

                Wa’lam. Ketahuilah oleh kamu sekalian, sebenarnya mengetahui hakikat diri itu fardu ‘ain, tegasnya wajib tiap-tiap manusia yang aqil baligh, karena sebenarnya ma’rifat kepada Alloh itu ditangguhkan hingga mengetahui hakikat dirinya.
Sabda Rosululloh SAW: “man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu”, “siapa yang kenal akan dirinya, maka kenal akan Tuhannya”.
                Kenapa ma’rifat kepada Alloh adalah fardu ‘ain, karena bagaimana bisa  ibadah kepada Alloh, apabila tidak tahu ma’budnya (yang disembahnya), bukankah ibadah kepada Alloh itu wajib, sebagaimana Firman Alloh SWT. Dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat: 56 ;
“Wamaa kholaqtul jinna wal insya illa liya’ buduun”, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
                Oleh karena itu, segala hal yang mendekati fardhu ‘ain, maka perkara itu hukumnya fardhu. Kesimpulannya ialah mengetahui diri itu  adalah fardu ‘ain hukumnya. Sebaliknya, siapa saja manusia yang  tidak mengetahui kepada dirinya tentu lebih bodoh lagi untuk mengetahui Tuhannya. Oleh karena itu, harus mengetahui dirinya itu agar dapat ma’rifat kepada Tuhannya.
Menurut  ahli Sufi, yang dimaksud diri disini adalah diri yang halus yang disebut Ruh, sebagaimana Firman Alloh SWT: “Wafii angfushikum afalaa tubshiruun”, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan” (QS. Adz-Dzariyat: 21).
Yang dimaksud diri ialah semua yang halus-halus dalam badan, apabila kita selagi hidup tidak mengenalnya, sudah tentu tidak akan tahu ketika kita sudah mati. Apabila kita tidak mengenal sudah tentu kepada Alloh pun tidak akan ma’rifat, sebagaimana Firman Alloh SWT dalam Surat Al-Isra ayat 72:  “Wa mang kaana fii haa dzihi a’amaa fahuwa fil aa khiroti a’amaa wa adollu sabiilaa”, “Dan barang siapa yang buta (hatinya di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.
Yang dimaksud buta disini, yaitu buta mata hatinya, sebagimana Firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sebenarnya kamu sekalian bukan buta penglihatannya, akan tetapi buta mata hatinya yang berada di dada kamu sekalian”.
Wa’lam. Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa sebenarnya manusia itu disusun dari Latifah-latifah yang sepuluh.
Yang lima dinamakan Alamul Amri, yaitu:
1.       Latifatul Qolbi
2.       Latifatur Ruhi
3.       Latifatus Sirri
4.       Latifatul Khoffi
5.       Latifatul Akhfa

Yang lima lagi dinamakan Alamul Kholqi, yaitu:
1.       Air
2.       Tanah (Bumi)
3.       Api
4.       Hawa (Udara/Angin) 1 s/d 4 ini sering disebut anasir opat
5.       Latifatun Nafsi.

Dimana bersatu anasir yang empat ini, disebut “Latifatul Qolab”, yaitu yang halus di sekujur badan. Begitulah menurut pendapat ahli akal atau ahli falsafah.

Adapun hasilnya jumlah latifah yang ada di seluruh tubuh, itu ada 7 (tujuh):
1.       Latifatul Qolbi (Latifah hati).
Tempatnya kira-kira 2 jari dibawah susu kiri. Yang mengisi latifah tersebut ialah Nafsu Lawamah, yang mempunyai pengikut 7 (tujuh), yaitu:
1.       Gampang tertarik
2.       Zalim
3.       Mengumpat
4.       Ingin dipuji
5.       Tidak ada rasa kasihan
6.       Dusta
7.       Lalai terhadap kewajiban

2.       Latifatur Ruh
Tempatnya kira-kira 2 jari dibawah susu kanan. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mulhimah (Sawiyah), pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu:
1.       Pemurah
2.       Sederhana (seadanya)
3.       Ramah-tamah
4.       Rendah hati
5.       Menyadari kekhilafannya
6.       Sabar
7.       Tabah terhadap kesusahan

3.        Latifatus Sirri
Tempatnya kira-kira 2 jari di atas susu kiri. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mutmainah. Pengikutnya ada 6 (enam), yaitu:
1.       Sayang pada sesama mahluk
2.       Tawakal
3.       Senang beribadah
4.       Selalu bersyukur
5.       Ridho
6.       Takut berbuat dosa.

4.       Latifatul Khoffi
Tempatnya kira-kira 2 jari di atas susu kanan, yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mardiyah (Rodhiyah). Pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu:
1.       Baik budi
2.       Meninggalkan segala hal selain Alloh
3.       Belas kasih kepada sesame makhluk
4.       Selalu mengajak kepada kebaikan
5.       Memaafkan kesalahan orang lain
6.       Kasih sayang kepada sesame manusia
7.       Peduli terhadap perasaan orang lain.

5.       Latifatul Akhfa.
Tempatnya di tengah-tengah dada. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mardiyyah, artinya kesempurnaan. Pengikutnya ada 3 (tiga), yaitu:
1.       Ilmul yaqin (yaqin tahunya).
-pangkatnya       : Fana lil af’al.
-pandangannya : Laa Ma’buda Illalloh.
                2.    Ainul yaqin (nyata tahunya)
       -pangkatnya       : Fana fis-sifat.
                     -pandangannya : Laa Maqsuda Illalloh.
                3.   Haqqul Yaqin (mutlak tahunya).
                     -pangkatnya       : Fana fidz-dzat.
                      -pandangannya  : Laa Maujuda Illalloh.
6. Latifatun Nafsi.
     Tempatnya diantara dua alis (di tengah-tengah jidat). Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Amarah. Pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu:
1.       Kikir
2.       Ambisius
3.       Hasud
4.       Bodoh
5.       Sombong
6.       Syahwat
7.       Marah
7.Latifatul Qolab.           
Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Kamilah. Yang ini tidak punya pengikut, karena berasal dari anasir yang empat, yaitu:
1.       Cahaya air itu putih (inti air).
2.       Cahaya angin itu kuning (inti angin).
3.       Cahaya api itu merah (inti api).
4.       Cahaya tanah/ bumi itu hitam (inti bumi).

Adapun Nafsu Kamilah itu adalah nafsu yang sudah sempurna, merupakan watak/tabi’at yang tetap, selalu berada dalam kebaikan dan selanjutnya bisa naik ke pangkat yang lebih sempurna sehingga senang dan istiqomah dalam ibadah dibarengi mau memberi petunjuk kepada orang lain dan bisa menyempurnakan segala kekurangannya, malahan maqomnya disebut tajalli asma was-sifat. Kelakuannya langgeng taqorrub kepada Alloh selamanya sehingga disebut Insan Kamil Mukammil.
(Sumber : Kitab Bidayatussalikin karya KH.Syihabudin Suhrowardi).