MENELITI
DIRI
Wa’lam. Ketahuilah oleh kamu sekalian,
sebenarnya mengetahui hakikat diri itu fardu ‘ain, tegasnya wajib tiap-tiap
manusia yang aqil baligh, karena sebenarnya ma’rifat kepada Alloh itu
ditangguhkan hingga mengetahui hakikat dirinya.
Sabda Rosululloh SAW: “man ‘arofa nafsahu faqod
‘arofa robbahu”, “siapa yang kenal akan dirinya, maka kenal akan Tuhannya”.
Kenapa
ma’rifat kepada Alloh adalah fardu ‘ain, karena bagaimana bisa ibadah kepada Alloh, apabila tidak tahu
ma’budnya (yang disembahnya), bukankah ibadah kepada Alloh itu wajib,
sebagaimana Firman Alloh SWT. Dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat: 56 ;
“Wamaa kholaqtul jinna wal insya illa liya’
buduun”, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka
menyembah-Ku”.
Oleh
karena itu, segala hal yang mendekati fardhu ‘ain, maka perkara itu hukumnya
fardhu. Kesimpulannya ialah mengetahui diri itu
adalah fardu ‘ain hukumnya. Sebaliknya, siapa saja manusia yang tidak mengetahui kepada dirinya tentu lebih
bodoh lagi untuk mengetahui Tuhannya. Oleh karena itu, harus mengetahui dirinya
itu agar dapat ma’rifat kepada Tuhannya.
Menurut ahli Sufi, yang dimaksud diri disini adalah diri yang halus yang
disebut Ruh, sebagaimana Firman Alloh SWT:
“Wafii angfushikum afalaa tubshiruun”, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka
apakah kamu tidak memperhatikan” (QS. Adz-Dzariyat: 21).
Yang dimaksud
diri ialah semua yang halus-halus dalam badan, apabila kita selagi hidup tidak
mengenalnya, sudah tentu tidak akan tahu ketika kita sudah mati. Apabila kita
tidak mengenal sudah tentu kepada Alloh pun tidak akan ma’rifat, sebagaimana
Firman Alloh SWT dalam Surat Al-Isra ayat 72:
“Wa mang kaana fii haa dzihi
a’amaa fahuwa fil aa khiroti a’amaa wa adollu sabiilaa”, “Dan barang siapa yang
buta (hatinya di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta
(pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.
Yang dimaksud
buta disini, yaitu buta mata hatinya, sebagimana Firman Alloh SWT dalam
Al-Qur’an yang artinya: “Sebenarnya kamu
sekalian bukan buta penglihatannya, akan tetapi buta mata hatinya yang berada
di dada kamu sekalian”.
Wa’lam. Ketahuilah oleh
kamu sekalian, bahwa sebenarnya manusia itu disusun dari Latifah-latifah yang
sepuluh.
Yang lima
dinamakan Alamul Amri, yaitu:
1.
Latifatul
Qolbi
2.
Latifatur
Ruhi
3.
Latifatus
Sirri
4.
Latifatul
Khoffi
5.
Latifatul
Akhfa
Yang lima lagi dinamakan Alamul
Kholqi, yaitu:
1.
Air
2.
Tanah
(Bumi)
3.
Api
4.
Hawa
(Udara/Angin) 1 s/d 4 ini sering disebut anasir opat
5.
Latifatun
Nafsi.
Dimana bersatu anasir yang empat ini,
disebut “Latifatul Qolab”, yaitu yang
halus di sekujur badan. Begitulah menurut pendapat ahli akal atau ahli
falsafah.
Adapun hasilnya jumlah latifah yang ada di
seluruh tubuh, itu ada 7 (tujuh):
1.
Latifatul Qolbi (Latifah hati).
Tempatnya kira-kira 2 jari
dibawah susu kiri. Yang mengisi latifah tersebut ialah Nafsu Lawamah, yang
mempunyai pengikut 7 (tujuh), yaitu:
1.
Gampang
tertarik
2.
Zalim
3.
Mengumpat
4.
Ingin
dipuji
5.
Tidak ada
rasa kasihan
6.
Dusta
7.
Lalai
terhadap kewajiban
2.
Latifatur Ruh
Tempatnya kira-kira 2 jari
dibawah susu kanan. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mulhimah (Sawiyah),
pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu:
1.
Pemurah
2.
Sederhana
(seadanya)
3.
Ramah-tamah
4.
Rendah
hati
5.
Menyadari
kekhilafannya
6.
Sabar
7.
Tabah
terhadap kesusahan
3.
Latifatus Sirri
Tempatnya kira-kira 2 jari
di atas susu kiri. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mutmainah.
Pengikutnya ada 6 (enam), yaitu:
1.
Sayang
pada sesama mahluk
2.
Tawakal
3.
Senang
beribadah
4.
Selalu
bersyukur
5.
Ridho
6.
Takut
berbuat dosa.
4.
Latifatul Khoffi
Tempatnya kira-kira 2 jari
di atas susu kanan, yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mardiyah (Rodhiyah).
Pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu:
1.
Baik budi
2.
Meninggalkan
segala hal selain Alloh
3.
Belas
kasih kepada sesame makhluk
4.
Selalu
mengajak kepada kebaikan
5.
Memaafkan
kesalahan orang lain
6.
Kasih
sayang kepada sesame manusia
7.
Peduli
terhadap perasaan orang lain.
5. Latifatul Akhfa.
Tempatnya di tengah-tengah
dada. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mardiyyah, artinya
kesempurnaan. Pengikutnya ada 3 (tiga), yaitu:
1.
Ilmul yaqin (yaqin tahunya).
-pangkatnya :
Fana lil af’al.
-pandangannya : Laa Ma’buda
Illalloh.
2. Ainul yaqin (nyata tahunya)
-pangkatnya : Fana
fis-sifat.
-pandangannya : Laa Maqsuda Illalloh.
3. Haqqul Yaqin (mutlak tahunya).
-pangkatnya : Fana
fidz-dzat.
-pandangannya : Laa
Maujuda Illalloh.
6. Latifatun
Nafsi.
Tempatnya diantara dua alis (di
tengah-tengah jidat). Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Amarah. Pengikutnya
ada 7 (tujuh), yaitu:
1.
Kikir
2.
Ambisius
3.
Hasud
4.
Bodoh
5.
Sombong
6.
Syahwat
7.
Marah
7.Latifatul Qolab.
Yang mengisi
latifah ini ialah Nafsu Kamilah. Yang ini tidak punya pengikut, karena berasal
dari anasir yang empat, yaitu:
1. Cahaya air itu putih (inti air).
2. Cahaya angin itu kuning (inti angin).
3. Cahaya api itu merah (inti api).
4. Cahaya tanah/ bumi itu hitam (inti bumi).
Adapun Nafsu Kamilah itu adalah nafsu yang
sudah sempurna, merupakan watak/tabi’at yang tetap, selalu berada dalam
kebaikan dan selanjutnya bisa naik ke pangkat yang lebih sempurna sehingga
senang dan istiqomah dalam ibadah dibarengi mau memberi petunjuk kepada orang
lain dan bisa menyempurnakan segala kekurangannya, malahan maqomnya disebut tajalli asma was-sifat. Kelakuannya
langgeng taqorrub kepada Alloh selamanya sehingga disebut Insan Kamil Mukammil.
(Sumber : Kitab Bidayatussalikin karya KH.Syihabudin
Suhrowardi).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar